Ya iyalah. Bokepindo 4 hari sebelum pernikahanku. Memilin putingnya. Eee, kurang ajar. Naik turun. Item manis sih tepatnya.“Dereng mas, jogja ya? Sebuah penis kecil yang sudah amat basah. Tangannya mengocok pangkal penisku. Dan rasanya mulai sakit sekarang. Pelan dan sedikit menekan. Kalau saja Mei di sampingku, pasti kepalanya sudah bersandar di bahuku, dan tangannya memeluk lenganku. Kemudian mengelusnya. Tapi aku mendengar dia menghela napas. Kendaraan mulai menderu, bertambah cepat. Mataku juga.Aku melanjutkan kenakalanku. Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.Dia memandang ke bawah tubuhku.“Kasihan ya,…” senyumnya menunjuk ke “adikku”. Tetap memejamkan matanya.Aku makin berani. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Membelai rambutnya? Benar-benar mulus. Mei, calon istriku, kemudian menyusul ke Jakarta dan bekerja di sebuah bank di Bintaro. Siall, makin nikmat. Kami berpandangan sebentar. Atau pura-pura?




















