Langkahku semangat lagi. Wien datang. Bokepindo Lalu pijitan turun ke bawah. Ah sialan. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Tetapi, bayangan itu terganggu. Ah masa bodo. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Junior berdenyut-denyut. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Ah. Membuang napas. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Dingin. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah.




















