Aku tidak tahan. Bokepindo Ia tersenyum ramah. Ayo..!Aku masih diam saja. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.Seakan sengaja memainkan Si Junior. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.Seakan sengaja memainkan Si Junior. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Kaki disandarkan di dinding. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan.




















