Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Video bokep Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Mbak Wien sudah turun. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? “Si Nina, yang tadi. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut.




















